Hampir setahun yang lalu datang seorang laki-laki, katanya sih niatnya untuk serius menikah.
Saya menyambut perkenalan itu, hanya sayangnya kenapa ya, saya tidak bisa mendapatkan kenyaman saat saya bersamanya, dari segi apapun dia tidak ada celanya.
Walau saya masih belum bisa merasakan apapun saat bersamanya, saya masih berharap, perasaan saya bisa berubah, dan saya sangat membutuhkan bantuannya, dalam artian kesabarannya untuk menghadapi saya, kesungguhannya untuk meluluhkan saya, hingga saya bisa memiliki kenyamanan dan chemistry saat bersamanya.
Tetapi sepertinya dia tidak memiliki kesabaran itu, dan saya mengerti. Tadinya saya berharap, kami bisa berteman dulu, untuk bisa memiliki kenyamanan sebagai teman dahulu, tapi sepertinya dia tidak ingin seperti itu, karena mungkin wasting time untuk dia, dan saya bisa mengerti.
Suatu hari dia mengajak saya menikah.... Kalau sudah mengajak menikah, saya harus bertanya dulu sama yang memiliki kehidupan ini. Saya minta waktu untuk istikhoroh, untuk meminta kemantapan dan keyakinan, untuk meminta petunjuk, kenapa saya harus menerimanya sebagai imam saya, suami saya, bapak dari anakanak saya.
Setelah hampir 3 minggu, saya akhirnya memiliki jawaban dari istikhoroh saya. Dan saya sudah menemukan alasan kenapa saya harus menerimanya menjadi imam dan suami saya. Hal yang menjadi pertimbangan bagi saya adalah, sholat, dia sangat rajin sholat, baik itu sholat wajib ataupun sunat. Dan itu yang menjadi alasan saya.
Hanya saya menjadi kecewa, setelah memberikan jawaban iya kalau saya mau menjadi istrinya, setelah dia bilang klo dia butuh istikhoroh lagi, dan dia punya pilihan lain, sehingga dia harus istikhoroh untuk tau mana yang terbaik.
Kecewanya saya, karena kenapa dia masih butuh istikhoroh?apakah waktu mengajak saya nikah sebenarnya tidak yakin dengan saya? klo tidak yakin kenapa mengajak saya menikah ?
dan kenapa dia masih membuka hati untuk perempuan lain, saat saya sedang istikhoroh untuk mendapatkan jawaban, saya jadi merasa dia tidak sungguh-sungguh dengan saya.
Akhirnya saya bilang, saya kembalikan lagi semuanya sama dia...
Beberapa minggu setelah kejadian itu, dia datang lagi ke saya, dia menanyakan kemungkinan apakah kita bisa bersama lagi. Sejak kejadian itu, saya menjadi kurang percaya dengan apanyang dia katakan, dengan apa yang dia ungkapkan. Saya perlu diyakinkan lagi apakah dia benar-benar sungguh-sungguh dengan saya?
Dia menanyakan apa indikatornya rasa percaya saya sudah kembali lagi. saya bilang terserah Allah, Allah yang akan menunjukkannya.
Dan beberapa hari yang lalu saya mendapat kabar kalau dia sudah berkomitmen dengan seseorang. Berita tersebut membuat saya jadi yakin He' s not that in to me.. Dia tidak sungguh-sungguh menginginkan saya jadi istrinya.
Terimakasih ya Allah telah Engkau tunjukkan yang seharusnya...
Aku menanti jawaban dari doaju yang lainnya..
No comments:
Post a Comment